Drama di Balik Sistem Tryout V-League Korea

Drama di Balik Sistem Tryout V-League Korea

Di V-League Korea Selatan ada drama besar di balik layar soal sistem tryout mereka. Saya rasa ini semacam niat baik yang berakhir kurang maksimal. Mari kita bahas kenapa sistem ini, yang awalnya dimaksudkan untuk bikin liga lebih adil, malah jadi batu sandungan buat klub dan pemain.

Masalah di Balik Sistem Tryout

Misalnya klub menemukan pemain jago banget di Eropa, pemain yang bisa bikin tim naik level. Tapi apa yang terjadi? Bukannya langsung negosiasi kontrak, klub malah harus meyakinkan dia buat ikut tryout dulu. 

Nah, di sinilah masalahnya. Pemain-pemain top dunia, yang sudah biasa main di liga besar kayak Italia atau Turki, pasti mikir, "Seriusan, saya harus audisi, untuk apa?"

Mereka punya opsi lebih gampang dengan gaji yang nggak kalah besar di tempat lain. Akhirnya banyak yang milih skip. Padahal, klub Korea bisa banget dapat untung besar dari pengalaman dan kualitas pemain-pemain ini. 

Gaji yang Terbatas: Menarik atau Malah Membatasi? 

KOVO, organisasi di balik V-League, memang menetapkan batas gaji buat pemain asing. Untuk pemain Asia, maksimalnya USD 150.000, sementara untuk pemain asing non-Asia USD 250.000. Dibandingkan dengan liga besar lain, angka ini jelas kurang kompetitif. 

Gimana klub bisa menarik pemain kelas dunia kalau gajinya segitu-segitu aja? Apalagi kalau kita bandingkan dengan liga Turki atau Italia, yang bisa bayar dua sampai tiga kali lipat lebih besar. 

Memang, niat KOVO mulia, yaitu untuk menjaga keseimbangan finansial antar klub. Tapi dalam praktiknya, aturan ini malah bikin klub kesulitan mendatangkan pemain top. 

Sistem Free Agent: Solusi yang Lebih Masuk Akal 

Sekarang, mari kita bandingkan dengan liga voli lain seperti di Italia, Turki, atau Jepang. Di sana, sistem free agent jadi standar. 

Klub bisa langsung negosiasi dengan pemain yang mereka incar tanpa harus repot urusan tryout. Hasilnya? Liga-liga ini penuh dengan pemain kelas dunia yang otomatis menaikkan kualitas kompetisi. 

Saya paham, ada ketakutan kalau sistem ini diterapkan di Korea, klub-klub besar bakal makin kuat dan klub kecil makin terpuruk. Tapi bukankah ini masalah yang bisa diatasi dengan regulasi tambahan? Misalnya, membatasi total gaji pemain asing di tiap tim. Jadi klub tetap punya fleksibilitas, tapi nggak ada yang terlalu dominan. 

Dampak pada Pemain Lokal 

Salah satu tujuan utama sistem tryout adalah membuka peluang lebih besar untuk pemain lokal. Dengan adanya batasan gaji dan mekanisme seleksi, diharapkan pemain Korea bisa lebih banyak dapat menit bermain. Tapi realitanya, apakah ini benar-benar efektif? 

Ketika kualitas pemain asing menurun karena sistem ini, persaingan di liga juga ikut turun. Pemain lokal mungkin dapat lebih banyak kesempatan, tapi apakah mereka benar-benar berkembang kalau level kompetisinya nggak setinggi itu? Rasanya ini perlu dipikirkan ulang.

lee go eun 

Apa Kata Fans dan Klub? 

Kalau kamu lihat diskusi fans voli di Korea atau internasional, banyak yang mulai mempertanyakan efektivitas sistem ini. Klub-klub juga sudah beberapa kali mengusulkan revisi, tapi sejauh ini belum ada perubahan signifikan. 

Dari sisi bisnis, klub pasti ingin mendatangkan pemain terbaik untuk menarik penonton dan sponsor. Tapi kalau sistemnya ribet begini, mereka jadi kehilangan daya saing di tingkat internasional. Akhirnya, yang dirugikan bukan cuma klub, tapi juga liga secara keseluruhan. 

Haruskah Sistem Ini Dipertahankan? 

Jadi apakah sistem tryout ini sepenuhnya buruk? Nggak juga. Tujuan awalnya baik, tapi implementasinya masih perlu banyak perbaikan. Kalau KOVO serius ingin menjadikan V-League sebagai salah satu liga voli terbaik di dunia, mereka harus berani mengambil langkah besar. 

Yang jelas, dunia voli semakin kompetitif. Kalau V-League nggak mau ketinggalan, perubahan adalah keharusan.

Lebih baru Lebih lama